Saturday, March 7, 2009

"slash! slash!" : Tiara

Hmm... kenapa sih Tiara, si ketua geng borju, kesal dengan Fay, Dea, dan Lisa?
Sebenarnya ada latar belakangnya......

Berikut adegan yang tidak lolos dari mata elang Mbak Donna :-p

Dimulai di akhir semester pertama kelas 1, tepatnya sejak Tiara tahu secara tidak sengaja bahwa Cici ternyata anak konglomerat dan tidak menunjukkan tanda-tanda mau bergabung dengan gerombolannya setelah didekati. Saat itu libur akhir pekan dan Tiara pergi dengan teman-teman menyebalkannya itu ke Singapura, setelah mengumumkan ke seluruh sekolah dengan heboh sejak dua minggu sebelumnya. Di salah satu mal di sana, tanpa disangka-sangka mereka melihat Cici yang baru keluar dari butik Aigner sambil menenteng dua kantong belanjaan besar dengan logo Aigner yang berbentuk tapal kuda sebesar gajah yang tidak mungkin salah diartikan. Yang membuat bengong adalah selain penampilan Cici yang sangat ‘chic’ dan sama sekali berbeda dengan hari-hari biasa di sekolah, bahkan kalau ada acara, dia keluar dari butik yang bukan konsumsi anak kelas 1 SMA itu sendirian. Dan yang lebih menohok bukanlah fakta bahwa saat itu tidak ada diskon, melainkan adanya pria yang berjas dan berbadan tegap yang menunggu di luar butik, yang langsung menerima kantong itu begitu Cici keluar dari butik. Dari gerak-geriknya, siapapun bisa langsung menebak bahwa pria itu pasti seorang bodyguard atau pengawal pribadi. Belakangan mereka tahu bahwa yang dibeli itu ternyata hadiah untuk tantenya di Jakarta – berita yang lebih menohok lagi tentunya.

Dari situ barulah terbuka bahwa ayah Cici adalah pengusaha terkaya nomor lima di Asia, dengan perusahaan yang berbasis di Singapura dan tersebar di Vietnam, Laos, Filipina, Cina dan Indonesia. Mamanya sudah tidak ada, meninggal ketika dia berusia 10 tahun dan papanya menikah lagi dengan seorang wanita Singapura beberapa tahun kemudian. Di Jakarta, papanya hanya punya satu perwakilan perusahan yang tidak terlalu besar, dipimpin oleh adiknya. Itu sebabnya papanya akhirnya membolehkan Cici untuk masuk sekolah negeri di Jakarta tanpa pengawalan seperti kalau dia ada di negara lain di mana nama papanya mendominasi dunia bisnis.

Untuk ukuran anak dari ayah yang sekaya itu, Cici memang tampil kelewat ‘sederhana’. Tinggal dengan adik papanya, dia diantar pulang pergi ‘hanya’ dengan Honda Stream, memakai pakaian yang modelnya polos-polos saja, walaupun sebenarnya bermerek kalau tidak cuma dilihat sekilas, dan tidak pernah pamer.

Fay, Dea dan Lisa juga baru tahu identitas Cici yang sebenarnya setelah insiden di Singapura itu diceritakan dengan heboh oleh gerombolan menyebalkan itu ke seluruh sekolah. Ketika Fay bertanya kenapa Cici tidak pernah membuka identitas dirinya, jawabannya singkat,

“Gue udah capek beli teman. Itu udah gue kerjain waktu SMP and in the end I ended up with an empty wallet and even an emptier heart.

Dan ketika ditanya kenapa dia memilih untuk masuk ke sekolah negeri di Jakarta sementara untuk sekolah ke bulan saja dia mampu, jawabannya sederhana,

I want to taste a little bit of freedom while I still can.

Cici sadar bahwa cepat atau lambat, dia pasti akan meneruskan bisnis dan mewarisi kekayaan itu, dengan sejuta atau semiliar tanggung jawabnya dan dengan batasan-batasan yang tidak dimengerti orang biasa seperti Fay. Saat itu Fay cuma bisa menggelengkan kepalanya, masih tidak percaya bahwa temannya yang kepalanya suka ia jitak itu sebenarnya anak konglomerat. Tak heran Cici suka bersikap dewasa, dan kadang terkesan kelewat tua. Di meja makan saja kalau makan bersama om atau papanya, yang dibicarakan adalah aset, likuiditas, investasi, akuisisi – apapun maksudnya.

Tinggalah Tiara n the gank yang kebakaran jenggot, karena sapaan ramah yang sejak saat itu tak pernah luput mereka layangkan ke Cici selalu dibalas biasa-biasa saja. Malah Cici makin dekat dengan Fay, Dea, dan Lisa. Sampai saat inipun Tiara tidak pernah berhenti usaha, dan menjadikan ketiganya sebagai sasaran empuk celaan atau sindiran pedas, terutama kalau kebetulan Cici sedang tidak ada di sekitar mereka.

Thursday, March 5, 2009

"Ooopss... hik..hik..."

Itu adalah reaksi ku waktu lihat adegan yang dipotong-potong (...slash...slash...slash...) oleh editorku, Mbak Donna, yang unfortunately juga didukung oleh editor pertama, Mbak Vera.

Ooopss.... hik...hik....

Di bayanganku, tokoh-tokoh yang terpotong itu langsung melotot dengan marah (sayangnya ke arahku gitu lho, bukannya ke Mbak Donna atau Mbak Vera aja....).

Jadi, untuk mendinginkan emosi mereka, di sini aku akan post apa-apa saja yang dipotong dari buku pertama Eiffel, Tolong!

Pssst, emang ada buku kedua?

Hi..hi.. ya ada laaaah..... wong tokoh-tokoh itu masih sahut-sahutan di kepalaku, sampai bikin sakit kepala!

Tapi aku nggak mau ngomong apa-apa dulu aaaah.... takut keburu dipotong lagi :-)

Available in Stores..... !

Hai hai hai.... (*riang... dan mules)

Menurut beberapa teman, ternyata 'Eiffel, Tolong!' sudah tersedia di toko buku online (gramediaonline.com, inibuku.com, bukukita.com)...

Bisa juga cek di google (ketik aja 'eiffel tolong')....

Thanks ya all atas semua bantuannya.....

salam riang (*dan tetep muless....),
clio freya